Tuesday, November 25, 2008

Again, missing you like crazy...

Belakangan ini aku sering inget semua adik-adikku. SEMUANYA. Aku kangen sekali sama mereka. Bukannya aku nggak bisa sms atau telepon mereka. Hanya saja, aku kangen hal-hal kecil tentang mereka. Aku kangen ngebahas lagu-lagu Mandarin yang romantis-romantis sama Aling. Aku kangen ngobrolin komik-komik seru sama Sese. Aku juga kangen ngebahas film-film serial dengan Yeye. Aku bahkan kangen sekali pada adik cowokku yang udah lama nggak kuajak ngobrol.

Dan di saat-saat seperti ini, aku ketemu lagu F4 yang super bagus dan bikin aku tambah ingat sama mereka. Jadi kutuliskan saja liriknya. Just want you to know that I really miss you...

Ti Yan (Experience)
Artist: F4/JVKV
Album: Waiting For You

Jerry: Bu lun xian zai ji dian
(No matter what time it is now)
Hui yi de pian duan zui mei
(The pieces of our memories are the most beautiful)

Vic: Wo men yong you shi jie
(We have the world)
Jiu suan meng xiang li zai yuan
(Just consider it as our dreams drifting farther and farther)

Vanness: Lei ji kuai le de huang ye
(The wilderness where our happiness accumulates)
Shou cang shi kong zhao liang li de yi qie
(The collection of time and space illuminates your all)

Ken: Bu guan dang fa sheng shen me
(No matter what happens)
Wo xiang wo men bu hui gai bian
(I think we will never change)

F4:Goodbye my friend
Jerry: Shuo hao bu shuo zai jian
(Say “be well” don’t say “goodbye”)

F4: So long my friend
Ken: Ji de ni kei wo zui bang de ti yan
(Remember, you were my best experience)

Vic: Wu lun duo shao li bie
(Regardless of how many times we part)
Na ye bu deng yu yan lei
(That does not equal a tear)

Jerry: Ao you mei ge le yuan
(We can roam through every paradise)
Jiu xiang hui dao le cong qian
(Until we’ve returned back to the beginning)

Ken: Lei ji kuai le de huang ye
(The wilderness where our happiness accumulates)
Shou cang shi kong zhao liang li de yi qie
(The collection of time and space illuminates your all)

Vanness: Bu guan dang fa sheng shen me
(No matter what happens)
Wo xiang wo men bu hui gai bian
(I think we will never change)

F4: Goodbye (Goodbye) My Friend (oh My Friend oh~)
Vic: Jiu suan hao jiu bu jian oh~
(Just consider it “long time no see” oh~)

F4: So long (So long) My Friend
Jerry: Ji de ni shi wo zui zhen de ti yan
(Remember, you were my truest experience)

Vanness: Bu guan zhe yi ke ni zai mou tiao jie
(It doesn’t matter which street your on at this moment)
Wo xiang wo ye neng gou gan shou dao ni de gan jue
(I think I can also feel your feelings)
Bu guan na yi ke wo zai ni shen bian
(It doesn’t matter which moment, I am by your side)

F4: Goodbye My Friend oh~
Vanness: Shuo hao bu shuo zai jian (bu shuo zai jian)
(Say “be well” don’t say “goodbye” (don’t say “goodbye”))

F4: So long (So long) My Friend ( My Friend)
Jerry: Ji de ni kei wo zui bang de ti yan
(Remember, you were my best experience)

F4: My Friend~ (Goodbye oh My Friend) oh~
Ken: Jiu suan hao jiu bu jian (hao jiu bu jian)
(Just consider it “long time no see” (long time no see))

F4: So long (So long) My Friend
Vic: Ji de ni shi wo zui zhen de ti yan
(Remember, you were my truest experience)

Vic: Wu lun duo shao li bie
(Regardless of how many times we part)

Jerry: Na ye bu deng yu yan lei
(That does not equal a tear)

Monday, October 20, 2008

Lebaran kemarin...

Oke... Kayaknya cerita ini dah basi ke mana-mana. Aku memang paling males cerita soal liburan. Habis, selesai liburan kan capek, maunya tidur-tiduran dan leha-leha. Waktu akhir tahun lalu pergi ke Purwokerto aja nggak ada catatan perjalanannya. Padahal di situ asyik banget lho. (November nanti pergi lagi. Asyiiik dah gak sabar pengin makan sate kambing!) Jadi sekarang, biar telat, tetep ditulis deh, daripada nyesal.

Sebenarnya Lebaran kali ini kami nggak ke mana-mana. Soalnya adik-adikku yang manis-manis, Sese dan Yeye, datang mengunjungi kami di Bandung! Horeeee! Alamat bakalan gosip sampe dower nih. Seperti biasa, Sese tentu disertai dua bawaan tetapnya, Akira dan Ryu. Hehe. Kasian amat dibilang bawaan. Senangnya bisa ketemu Ryu lagi! Sekarang dia udah gede. Ngomongnya lancar banget. Mana kalo nyanyi "Are you sleeping? Are you sleeping? Bang Jojon... Bang Jojon..." Pokoknya kocak abis lah tuh anak. Saking gak tahannya aku bekep dia (dipeluk biar gak kabur). Setelah aku lepasin dia, dia pukul aku sekali. Aw!

Selain Yeye yang tinggal di rumahku, rombongan dari Jakarta ini nginep di Papandayan. Soalnya hotel yang satu ini deket banget sama rumah kami sih. Kalo ada apa-apa, gampang banget. Mereka datang dari tanggal 1-3, tapi karena di hari ketiga mereka sudah kembali ke Jakarta subuh-subuh, hitungannya cuma dua hari dua malam. Waktu mereka datang ke sini, sudah kupesan supaya datangnya pagi-pagi biar nggak kejebak macet. Saking sepinya, mereka kira mereka sedang memasuki Racoon City (kota yang ada di Resident Evil itu lho), sampai-sampai sudah ketakutan bakalan dikeroyok zombi. Nggak sopan. Kalo mau disangka makhluk horor gitu, minimal disangka vampir kek (aku langsung mengibas-ngibaskan rambut biar mirip Rosalie di serial Twilight).

Lebaran dan Bandung sepertinya nggak gitu cocok. Di satu sisi, namanya Lebaran, orang-orang muslim asyik bersilaturahmi, jadi banyak resto yang tutup. Sementara itu, karena Bandung termasuk salah satu kota wisata yang paling digandrungi di Jawa, jadinya rame banget deh. Ceritanya mau ke Lembang, tapi di tengah jalan macet banget. Pas diliat, mobil-mobil di sekitar kami platnya B semua (termasuk mobil yang kami tumpangi alias mobil Akira). Buset!

Jadilah batal ke Lembang, main-mainnya cuma di sekitar kota aja. Di hari pertama, pagi-pagi makan di McDonald's. (Kasian... Memangnya di Jakarta gak ada McD? Huehuehue. Jadi inget tahun entah kapan itu, kami sekeluarga pernah pergi ke Bogor buat makan KFC.) Habis itu pada istirahat. Sore-sore kami sempet mampir di FO di Riau. Tapi kok mahal-mahal ya? Mana modelnya biasa pula. (Sese bilang, kayaknya murahan beli di online shop, hehehe. Dasar gila online shop!) Kupikir, mungkin kami belum pengalaman kali nyari FO yang bagus. Sejak di Bandung, aku memang jarang belanja sih. Sekali-sekalinya belanja, perginya ke Pasar Baru.

Malemnya, kami mengunjungi Ci-Walk. (Hehe. Di Jakarta juga gak ada mal.) Sempet beli takoyaki dan makan di Shin Men. Aku sih makan Chocolate Forrest di situ, abis sushinya mahal sementara aku gak suka udon dan sodara-sodaranya. Enak banget! Sebenarnya, maunya makan di Blind, tapi gak bisa karena bawa anak-anak. Nanti mereka nangis lagi di dalem.

Hari kedua lebih sukses, meski banyak tempat tutup juga. (Padahal Sese udah ngebet pengin ke Pasar Baru.) Berhubung 2 Oktober itu wedding anniversary Akira-Sese, akhirnya kita makan steik di Suis Butcher. Gila, ternyata lebih murah dari makan McD kemaren. (Mana aku dapet sirloin yang banyak lemaknya, nyamm nyammm...) Sore-sore kami mangkal di lobi untuk executive room di Papandayan sambil makan cemilan all-you-can-eat dengan tidak mau ruginya (gratis soalnya, complimentary untuk executive room). Dengan perut kenyang kami pergi ke Dago, menjelajahi FO-FO di sana. Kali ini lebih sukses, meski aku dan Yeye nggak sempet beli apa-apa juga. (Padahal aku lagi hunting kado buat sohib-sohibku tersayang... Hiks...)

Pulangnya makan di Roemah Keboen. Aku belum pernah makan di situ sih, tapi dari milis Jalansutra, aku dapet info kalo di situ makanannya enak-enak. Maunya makan Dombrut di Ternate 5, tapi Dombrut tutup lagi. Juga bebek goreng di Jalan Kalimantan. Hiks. Tapi ternyata Roemah Keboen nggak mengecewakan. Makanannya enak, harganya pun nggak terpaut jauh dengan Suis Butcher (lebih mahal sedikit saja), berarti lebih mahal sedikit saja dibanding McD.

Sedihnya waktu mereka pulang... Lex juga sedih, karena dia seneng banget bisa punya temen main. Aku sangat senang liat dia bisa get along sama Ryu. Ngebayangin, pasti lebih asyik lagi kalo ada Evander dan Avery di sini! Pengin juga melihat mereka berantem. (Dasar ibu-ibu maniak.) Kata Sese, mungkin akhir tahun mau dateng lagi, karena Akira sudah terpikat sama Bandung. (Iya doongg *banggadotcom*) Jadi gak sabar nih, nungguin liburan... Hihihi...

Friday, October 10, 2008

My Japanese Son

Dilihat dari selera makannya, kurasa Lex pantas menjadi anak Jepang. Satu-satunya makanan ala Indonesia yang disukainya hanyalah pecel lele. Memang sih sukanya banget-banget, tapi hanya itu saja. Makanan lain, kalau tidak pedas, pasti bersantan. Sepertinya dia tidak terlalu suka masakan bersantan. Kami pun biasanya berusaha menghindari masakan bersantan untuk Lex, karena takut memberatkan pencernaannya.

Kalau masakan Barat, dia suka kentang. Baked potato, french fries, semuanya dia suka. Dia juga suka roti dan keju. Tapi sepertinya hanya itu deh. Memang sih aku tidak bisa membuat masakan Barat. Mungkin kalau aku membuat masakan Barat untuk batita yang dipenuhi susu dan keju, dia bakalan suka. Tapi yah masalahnya aku nggak bisa. ^^;

Dia suka masakan Chinese. Hanya saja, dia tidak bisa mengunyah daging. Bukannya tidak bisa, tapi tidak mau, karena terkadang dia bisa memakan daging, tetapi lebih seringnya tidak. Padahal kebanyakan masakan Chinese menggunakan daging. Dia suka banget minum sup-sup ala masakan Tiociu, bahkan termasuk siamchiu yang rada pahit, tapi dia tidak suka daging yang datang bersamanya.

Tetapi kalau masakan Jepang, dia sangat suka sashimi. Dulu kalau aku sedang makan sashimi, nggak ada yang gangguin. Surya, jelas, akan membiarkan aku menghabiskan semuanya. (Kayaknya dia nggak akan mau makan sashimi untuk selamanya deh.) Namun kini, oh my God, selalu ada kepala imut yang nongol di samping meja, menatap sashimi dengan mata kepingin. Waktu dulu aku pasti nggak akan membaginya deh, abis sashimi itu kan mentah. Tapi sejak aku baca Babysitter Gin yang menceritakan bahwa bayi-bayi Jepang sudah makan sashimi sejak usia enam bulan, aku pun memberanikan diri memberinya sashimi. Ternyata dia suka banget! Entah itu tuna atau pun salmon, dia selalu memakannya dengan penuh semangat meski tanpa soyu (kadang aku lupa ngasi soyu, tapi dia tetep suka banget). Bahkan ketika aku iseng-iseng memberinya wasabi (hihihi), meski kaget dan protes (bahkan sempet loncat-loncat segala), dia tetep mau saja kalau kusodori lagi.

Bukan itu saja. Dia juga suka banget sama sup miso sejak pertama kali diberi nasi. Aku ingat, awal-awal aku memberinya makan nasi adalah ketika aku membeli sup miso dari Hokben. Langsung deh dia makan dengan penuh nafsu. Dia juga suka tahu dan daun bawangnya. Kalau nori sih sepertinya dia lebih suka yang kering. Yep, dia juga suka banget sama nori. Kalau lagi ngemil nori, ibu dan anak sampai rebutan.

Makanan ala Jepang lain yang dia sukai adalah tobiko dan katsuo. Ya ampun. Tobiko sih masih cengli deh, habis kan memang enak. Tapi kalo katsuo? Itu kan cuma parutan ikan kering doang. Aku ingat, waktu dulu Lili memberi kami katsuo satu bungkus besar, Lex hobi banget ngemilin si katsuo, sampai mulutnya belepotan. Karena itu nggak ngenyangin, jadilah aku menyuapinya seperti never ending story.

Oh dear, my Japanese son...

Saturday, August 30, 2008

Tukang Bakso Nan Macan

Toko di sebelah toko kami menjual barang-barang untuk keperluan salon. Penjaganya hobi banget makan bakso. Kalo nggak siang ya sore. Pokoknya kerjaannya nungguin tukang bakso deh.

Mungkin itu sebabnya si Godeg, tukang bakso langganan kami, hobi mangkal di depan toko tersebut. Setiap kali Godeg mangkal di situ, emperan toko dipenuhi cowok-cewek penggemar bakso yang lagi duduk sambil makan bakso si Godeg. Pokoknya rame banget, sampe tokonya nggak keliatan. Tapi si penjaga toko nggak keberatan. Namanya juga cinta mati sama bakso.

Setelah beberapa saat tinggal di sini, Surya -- sebagai manusia yang punya reputasi hobi temenan sama tukang jualan makanan -- mulai menjalin hubungan akrab dengan Godeg. Gini-gini Godeg punya pekerjaan yang jauh lebih santai (tapi tetep ramai) daripada toko-toko pada umumnya. Setiap bulan pasti sempetin diri pulang kampung, dan sekali pulang bisa semingguan atau lebih. Tapi di sini orang-orangnya memang pandai mencukupkan diri pada rejeki yang ada. Tukang jualan es di depan toko saja, bisa menghidupi empat istri dari jualan es. Gila.

Back to Godeg, makan baksonya Godeg emang mantep. Aku yang hobi makan bakso vegetarian (maksudnya, lebih suka sayur dan supnya ketimbang baksonya yang biasa kuhibahkan ke Surya) bisa langsung memesan sayur dan sup saja dengan harga tiga ribu perak. Asyiknya! Bukan itu saja. Kalau kita pesan, dia bisa membawakan tulang sapi gede-gede yang dipenuhi sumsum cair yang sangat lezat. Menikmati sumsum ini pun ada triknya, kudu pake sendok kecil atau sedotan. Kalau dia nemu, juga dibawain tulang yang masih ada lemaknya. Aku yang sempat mendapat hibahan tulang-tulang ini, langsung merasa seperti Timmy (ya ampun!) doggy-nya Lima Sekawan. Makan tulang memang lezat banget!

Yah begitulah sekelumit kisah tentang Godeg, tukang bakso yang luar biasa ini. Bener-bener tukang bakso nan macan!

Sunday, August 24, 2008

Happy 2nd birthday, Alexis Maxwell Lukamto!

Kemaren tanggal 22 Agustus 2008, akhirnya Lex merayakan ulang tahunnya yang kedua. Wah, sudah dua tahun ya! Padahal aku masih mengingat jelas hari itu, hari di mana aku melahirkannya. Perasaan bingung ketika melihat bayi imut yang lagi nangis heboh, sambil mikir "Hah? Itu toh anak gue! Kok gak mirip siapa-siapa?" Hahahaha. Tapi begitu dibawa pergi sama suster, aku langsung ketakutan. Nanti jangan-jangan ketuker sama bayi lain! Langsung mukanya direkam dalam ingatanku. Untung begitu pisah dariku, langsung dia dijaga Surya yang langsung foto-foto sebanyak mungkin. Jadi nggak akan ketuker deh. *Hosh hosh*

Waktu bayi, aku suka merasa muka Lex seperti anak burung. Terutama waktu lagi minum ASI, mirip bener dengan anak burung dalam film kartun yang sedang menjerit-jerit minta makan sama induknya. Banyak orang bilang wajahnya sudah berubah dibanding waktu masih bayi. Yah, aku juga merasa begitu sih. Dulu mukanya, meski mirip anak burung, juga mirip Donatello si personil TMNT yang paling bungsu. Sekarang udah nggak ada bekas-bekas TMNT sama sekali! Tapi waktu masih tidur, aku merasa dia masih mirip anak burung. Masih mirip dengan wajah bayi yang terekam dalam ingatanku. Kalo udah gitu, aku suka merasa terharu sendiri. Dasar cengeng.

Meski memang baru berusia dua tahun, tapi rasanya aku sudah bersama-sama Lex since forever. Rasanya nggak kebayang dulu pernah hidup tanpa makhluk lucu yang selalu bikin repot ini. Pasti jaman itu aku kesepian banget ya, meski waktu itu aku nggak menyadarinya! Betapa dua tahun ini hidupku begitu kaya dengan pengalaman-pengalaman baru setiap hari. Kadang deg-degan karena mengkhawatirkannya, kadang emosi karena kenakalannya, kadang kecapekan karena direpotkan, tetapi lebih banyak ketawa karena ulah-ulah lucunya dan bahagia karena disayangi. Betapa semua kebahagiaan ini, nggak mungkin bisa diungkapkan dengan kata-kata. Klise memang, tapi begitulah kenyataannya.

Untuk semua itu, setiap hari aku bersyukur kepada Tuhan. Semoga Lex hidup sehat, bahagia dan mencapai semua impiannya. Amin.